Pelaut

Waktu saya di sekolah dasar dulu sering kali  mendengar cerita kehebatan nenek moyang kita sebagai Pelaut. Saat di sekolah menengah saya makin yakin kalau sejarah Pelaut Indonesia dikenal hingga ke manca Negara, ada Pelaut-pelaut Sriwijaya dan Majapahit. Kita boleh bangga dengan memiliki Kapal Pinisi yang merupakan salah satu tanda kehebatan berlayar bangsa kita ( itu milik pelut Bugis kalau tidak salah ya ). Harusnya tidak mengherankan kalau dilihat dari letak geografi Negara kita yang merupakan Negara kepulauan. Seharusnya….ya sekali lagi seharusnya kita mempunyai Angakatn Laut yang handal bukan?

Selama ini saya tidak begitu menaruh perhatian dengan dunia pelayaran. Dulu saat masih kecil pernah dekat dengan dunia maritime karena Almarhum papa saya TNI, tapi beliau Angkatan darat jadi ya..hanya seputaran lihat Kapal perang, ikutan berlayar gitu deh..  Tapi saat saya bekerja di Palau saya lihat betapa miripnya orang-orang Palau ini dengan bangsa Indonesia, saya jadi yakin…pasti nenek moyang kita pernah disini. Apakah itu pertukaran dagang, ilmu pengetahuan atau bahkan menetap dan beranak pinak. Rupanya memang benar di Palau Museum disebutkan nenek moyang orang Palau ada darah Indonesianya.  Kalau di Palau saja yang Negara kecil ini Pelaut Indonesia pernah disini, artinya di Pulau-pulai lain juga kemungkinan besar pernah.

Yang saya dapati saat saya bekerja di palau Pelaut Indonesia ini berupa Nelayan penangkap ikan ( boleh kan ya disebut pelaut? ). Mereka jauh dari makmur, tidak seperti rekannya yang menjadi TNI Angkatan Laut, para nelayan Indonesia disini Ngenes..kasihan. ..Mereka berangkat dari ketidak tahuan dan ketidakberdayaan, hanya karena tidak ingin menganggur di desanya, atau hanya karena ingin bekerja mendapat dollar mereka nekat saja teken kontrak dengan kapal penangkap ikan milik asing. Biasanya nelayan Indonesia ini bekerja di kapal penangkap ikan milik Taiwan, Jepang atau Korea. Para boss pemilik kapal ini mencari crew/ anak buah dari agent tenaga kerja ( biasanya illegal ) di Jakarta. Para broker tenaga kerja di Jakarta mencari tenaga kerja dari desa-desa kecil di wilayah Jawa timur,Jawa  tengah hingga Jawa barat. Mereka tidak satupun yang bisa bahasa Inggris, tidak dilengkapi keterampilan berbahasa yang sesuai dengan kapal yang akan menjadi tempat mereka mencari nafkah, apakah itu bahasa Korea, Mandarin atau Jepang. Kalau mereka beruntung Kapten kapalnya baik, maka nasib mereka pun membaik. Saya pernah melihat di salah satu TV Korea yang meliput kehidupan kapten kapal bersama 2 orang ABK yang berasal dari Brebes. Mereka diperlakukan dengan baik seperti keluarga sendiri, belajar bahasa Korea, menyimpan dan mengirim uang buat keluarga, mendengarkan music dangdut juga 😛

Bila tidak beruntung seperti yang terjadi di Palau ABK diperlakukan semena-mena oleh kapten kapal dari Taiwan. Dibentak, di maki, kadang dipukul, ada yang gaji gak di bayar-bayar. Kadang juga salah ABK karena saking bodohnya dan tidak bisa kerja, kadang Kapten kapal yang keterlaluan. ABK ini banyak yang tidak tahu isi kontraknya, tidak tahu sebenarnya berapa mereka digaji, pokoknya main berangkat saja!!!

Saya ini orang Indonesia yang kebetulan bekerja di Luar negeri dalam rangka tugas dari perusahaan. Kebetulan juga perusahaan tempat saya bekerja adalah perusahaan besar dan cukup bagus, itu saja berasa banget kangen dan sengsaranya jauh dari tanah air, apalagi mereka ya yang terlunta-lunta seperti apa rasanya? Kadang saya jengkel dengan kelakuan ABK yang malah menghabiskan waktu mereka ke Kafe atau Karaoke dan bersenang-senang dengan wanita penghibur di Bar tersebut. Saya berfikir apa tujuan mereka bekerja sebenarnya? Kenapa malah uangnya dihabiskan untuk foya-foya, mabuk-mabukan dan berakhir dengan berantem kemudian masuk penjara? Tapi kadang juga saya memaklumi, mungkin mereka hanya perlu waktu rehat, melepas stress, kangen dan lelah sesaat untuk kemudian kembali mengarungi Samudra, menangkap ikan, mengumpulkan dollar yang uangnya dikirim ke Indonesia untuk keluarganya. Siapa yang tahu, kita tidak layak menghakimi orang yang kita kenalpun tidak. Selamat berlayar Pak Nelayan, tangkap ikan yang banyak dan jangan lupa pulang

Nenek moyangku seorang pelaut

Gemar mengarung luas samudera

Menenerjang ombak tiada takut

Menempuh badai sudah biasa

Advertisements

About Nandha

No one responsible to makes you happy, but you. One of them is with traveling/ vacation. So..lets start your journey guys :)
This entry was posted in Palau and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s