Ichiiko

Ichii

Ichii

Dari kecil saya suka dan sudah punya hewan peliharaan. Saat SD di Papua kami pernah pelihara 9 kucing, dan tugas memberi makan adalah tugas saya, sedangkan adik yang kala itu masih TK hanya bagian “nguleng-guleng” ( bercanda dengan kucing). Almarhum papa juga suka hewan, dari Ikan Arwana, burung exotic seperti Kakak Tua Raja, Kakak Tua Jambul Kuning & Jambul Putih, Burung Nuri, Burung Kasuari, Cendrawasih, sampai Buaya pernah kami pelihara. Saya dan adik yang paling suka sedangkan mama gak pernah dekat-dekat dengan mereka 😛 Mungkin karena punya peliharaan ini perasaan kami berdua jadi halus ya, entahlah…tapi saya ingat betul saat kucing kami si Pincang mati, adik saya menangis sambil nguburnya. Kalau saya gak usah ditanya, walaupun saya harus sembunyi diam-diam untuk menangis. Saat sudah SMA adik saya memelihara ikan, tapi saat ikan-ikannya mati ohhh well…he looks so depress 😛 makanya mama akhirnya melarangnya untuk memelihara hewan. “Buat apa pelihara ikan kalau setiap mati kamu stress gitu…sudah gak usah aja.” Hehehehe..karena itulah saya memilih untuk tidak punya peliharaan, padahal saya suka dan ingin sekali pelihara anjing.

Niat untuk punya binatang peliharaan setelah dewasa berkali-kali saya dan adik urungkan karena berbagai hal. Tapi rasa sayang kami kepada hewan tidak pernah luntur. Pernah suatu ketika adik saya harus memungut anak anjing hitam kurus dengan luka di leher karena tidak tega anjing itu menangis seharian di belakang rumah kami. Kami beri makan, dimandikan bahkan dibelikan obat. Setelah sembuh anjing hitam kecil itu menghilang entah kemana. Pernah juga tetangga memelihara dua ekor anak anjing lucu yang tidak diurus. Kami berdua yang memandikan dan memberi makan, bahkan mama yang tidak suka anjing jadi ikutan memberi makan karena sering tidak tega melihat anjing tersebut ditinggal berhari-hari pulang kampung oleh tuannya. Anjing tersebut pada akhirnya jadi seperti anjing kita, yang pada akhir hayatnya matipun mencari kami, seperti pamit 😦

Kemudian datanglah hari itu, dimana kami kedatangan maling yang mengambil semua perhiasan saya tanpa sisa. Saat itu tiba-tiba ada anjing coklat kecil yang meringkuk dibelakang rumah tepat di dekat pot-pot tanaman lidah buaya saya. Anjing itu masih kecil dari jenis anjing ukuran kecil yang seluruh tubuhnya penuh kudis atau apapun namanya, kurus dan ketakutan. Dua hari dia tidak mau pergi dari situ, akhirnya kami memutuskan untuk memeliharanya. Menurut suami saya anak anjing ini adalah pemberian Tuhan untuk menggantikan kehilangan kami ( ohhh… that’s so sweet ). Namanya ICHIIKO ( yang pertama ), anjing itu benar-benar bau, suami saya sampai hampir muntah-muntah saat memandikannya. Ichii kami beri makan, kami obati, dimandikan dan yang paling penting kami sayangi. Setelah diobati dua minggu kemudian bulunya rontok, lukanya mengering dan nafsu makannya membaik.

Setelah satu setengah bulan Ichii menjelma menjadi anjing yang cantik, pintar dan lucu.Justin sudah mulai berani main dengannya. Kami berniat untuk membawanya ke dokter hewan untuk vaksin dan mengetahui berapa kira-kira umurnya. Sayang kami berdua sangat sibuk, niatan kami tidak pernah kesampaian. Pada bulan kedua Ichii mulai tidak mau makan, awalnya kami pikir dia bosan dengan Sarden dan Cornet yang biasa kami siapkan, pada hari kedua dia mulai tidak makan apa-apa. Hari ketiga saya buat janji dengan Dokter Hewan mau bawa Ichii untuk periksa dan vaksin, saya dan Justin keliling Pet Shop cari obat yang disarankan dokter untuk Ichii. Pagi dini hari itu suami saya pulang jam 2 dan dia membangunkan saya karena Ichii sudah lemas. Ichii tergolek di pintu belakang rumah kami, tempat biasa dia menunggu makanan dan menemani saya mencuci atau masak. Tergeletak lemah dengan nafas satu-satu. Saya dan suami sangat menyesal dan sedih, kami tahu umurnya tidak akan lama lagi. Berdua kami menangis di depan Ichii, banyak “kalau” yang terlintas di kepala kami masing-masing. Kalau saja 4 hari lalu kami bawa ke dokter, kalau saja obat dari dokter kami dapat lebih awal, kalau saja kami tidak terlalu sibuk, kalau…kalau….kalau…

Hari itu tanggal 13 Mei 2016 Ichii meninggalkan kami bertiga dalam kesedihan, mata saya bengkak dan tidak berhenti menangis seharian. Bahkan malamnya saya dan Justin sampai harus menangis berpelukan menguatkan satu sama lain. Kasihan Ichii umurnya tidak panjang, semoga dia cukup bahagia saat tinggal bersama kami di akhir hidupnya. Justin sempat minta ganti dibelikan anjing agar bisa melupakan Ichii, kami berdua tidak menyetujuinya. Kami merasa belum siap dan belum cukup punya waktu luang untuk memelihara hewan peliharaan dengan baik. Bagi kami, bila sudah berkomitmen untuk memelihara artinya harus disayangi dan di rawat baik-baik. Bukan dipelihara hanya digunakan sesuai keperluan tapi diabaikan tanpa kasih sayang. Kita memang harus siap kehilangan saat kita memiliki, bila tidak ingin merasa kehilangan sebaiknya tidak pernah memiliki. Tapi apalah artinya sakit saat kehilangan dibandingkan dengan nilai hidup dan warna yang telah tercipta saat kita masih memiliki. Good bye Ichii rest in peace, we love you, you will always in our heart ..forever … 😦 😦 😦

Advertisements

About Nandha

No one responsible to makes you happy, but you. One of them is with traveling/ vacation. So..lets start your journey guys :)
This entry was posted in Bali and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s